Keajaiban Sains dan Teknologi pada Pertanian

Contoh teknologi yang digunakan dalam pertanian

Mayoritas masyarakat Indonesia bekerja sebagai petani, namun kebanyakan petani masih bekerja dalam skala kecil dan hanya memproduksi hasil panen yang sedikit. Hal tersebut menyebabkan petani tidak mendapatkan keuntungan yang banyak sebagai petani. Sekarang, pertanyaannya adalah “Mengapa petani tidak mendapat banyak keuntungan melalui bertani?” Ya, hal itu karena kebanyakan petani Indonesia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengambil untung dengan melibatkan sains dan teknologi dalam pertanian.

Indonesia, yang mendeklarasikan dirinya sebagai Negara pertanian, harus mampu menjadi salah satu pemasok makanan di dunia karena Indonesia berada pada posisi yang geografis. Faktanya, Indonesia belum mampu melakukan hal itu. Meskipun Indonesia memiliki nilai ekspor yang tinggi pada beberapa komoditi, namun Indonesia juga memiliki nilai impor yang tinggi dalam beberapa komoditi, seperti gandum, daging, beras dan lainnya. Kebanyakan orang Indonesia yang masih bertahan sebagai petani hanya menggunakan lahannya untuk biaya hidup, bukan berorientasi pada bisnis, karena pertanian tanpa sains dan teknologi tidak memiliki banyak keuntungan.

Kejadian ini belum lama terjadi, saat Amerika Serikat mengalami gagal panen gandum karena tornado yang melanda dan Indonesia menerima imbasnya yang menyebabkan meningkatnya harga bahan mentah untuk kue dan roti. Hal itu tidak seharusnya terjadi jika saja bahan mentah diganti dengan produk lokal. Indonesia tidak menggunakan gandum produk lokal karena kualitasnya yang rendah.

Sebagai Negara yang memiliki sumber alam yang unggul, kesuburan lahan di Indonesia menurun lebih dari 50 persen. Hal itu terjadi karena kepopuleran pupuk kimiawi di kalangan petani. Penggunaan pupuk kimiawi dapat menyebabkan jumlah produksi panen yang rendah. Karena masalah ini, pemerintah mempertimbangkan bahwa peningkatan produksi panen dapat dilakukan dengan mengubah lahan hutan menjadi lahan pertanian. Pengubahan lahan ini menerima banyak kritik dari pencinta lingkungan. Hal ini disebabkan karena hutan Indonesia telah berkurang dari sekitar 58 persen di tahun 2008 menjadi sekitar 44 persen di tahun 2010. Produksi panen yang rendah secara langsung mempengaruhi pengkonversian lahan hutan yang merupakan masalah di hampir semua Negara yang menyebabkan meningkatnya perubahan iklim.

Dua masalah yang disebutkan sebelumnya mengindikasikan bahwa petani masih kurang dalam pengetahuan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen menggunakan sains dan teknologi dalam pertanian. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus, dunia akan mengalami masalah pangan tanpa ada habisnya.

Oleh karena itu, biarkan keajaiban sains dan teknologi diterapkan dalam pertanian. Pernyataan harus disebarkan bahwa pertanian Indonesia harus menerapkan sains dan teknologi dan hal ini harus didukung oleh berbagai kelompok. Pemerinta memiliki peran dalam peraturan dan legalisasi, sementara akademisi menjalankan proyek pengembangan pertanian dengan menggunakan sains dan teknologi secara langsung pada lahan pertanian. Pelaksaan sains dan teknologi pertanian diperkenalkan kepada petani dan digunakan oleh petani dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen tanpa bergantung pada Negara lain dan tanpa membahayakan lingkungan.

____________________________________________________________

 

Mari lihat perbedaan teknologi yang digunakan oleh petani Indonesia dan petani Australia

 

Indonesia

 

Australian

Ditulis oleh: amyhumaira

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *